Jumat, 27 Februari 2009

Jaipong polemik continues...

07/02/2009 13:58
Gubernur Jabar Enggan Komentari Jaipong Lagi

Liputan6.com, Depok: Gubernur Ahmad Heryawan enggan mengomentari polemik tarian jaipong yang ramai dibicarakan para semiman Jawa Barat. "Mau tanya apa, soal itu lagi, saya nggak mau komentar," kata dia usai bersilaturahmi dengan pegawai Pemerintah Kota Depok, Sabtu (7/2).

Polemik tentang tarian khas Sunda itu memanjang usai seniman Jabar khususnya ahli jaipong menyatakan akan mengabaikan imbauan Gubernur untuk mengurangi aspek "goyang, geol, gitek" dan pemakaian busana terbuka saat pementasan. "Tak ada pernyataan resmi tentang himbauan terhadap tarian Jaipong," jelasnya.

Gubernur tak akan mencari tahu pihak mana yang pertamakali mengeluarkan imbauan itu. "Kapan saya pernah berkomentar tentang Jaipong," tanyanya. Ahmad Heryawan berjanji akan segera bertemu dengan para seniman Jawa Barat guna membahas hal ini.

Jaipong polemik continues...

Jumat, 06/02/2009 11:20 WIB
Batasi 3G Jaipongan
Kadisparbud Jabar: Tidak Ada Pelarangan Kreativitas
Agus Rakasiwi - detikBandung

Bandung - Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Herdiwan IIng S mengatakan adanya polemik di tengah masyarakat jika jaipong dilarang adalah tidak benar.

"Kami tidak melarang dan tidak pernah melarang," ujar Kadisbudpar, saat jumpa pers di Gedung Sate, Jumat (6/2/2009).

Menurut Herdiwan, gubernur juga tidak akan pernah mengeluarkan perda atau pergub soal pelarangan jaipongan dan seni lain yang dianggap seronok.

Namun, lanjut Herdiwan, Gubernur hanya mengimbau agar para penari jaipong ini tak tersandung masalah untuk ke depannya.

"Ia peringatkan agar tidak jadi masalah ke depannya. Apalagi kalau ada UU pornoaksi," katanya.

Menurutnya, sebagian masyarakat ada yang terganggu dengan penampilan penari jaipong. Misal, pakaian penari yang memperlihatkan ketiak dan goyangan si penari.

"Kalau saja bisa ditutup sedikit bagian aurat seperti ketiaknya, sebagian masyarakat yang risih bisa menerima," tambahnya.

Sebelumnya Herdiwan mengatakan jika gubernur meminta agar para penari memakai baju yang tak memperlihatkan ketiaknya. Gubernur juga mengimbau agar goyang, gitek, dan geol (3G) jaipong dikurangi.

Gubernur Jabar Larang Pentas Tari Jaipong

Bandung - Akhirnya kekhawatiran yang selama ini menggelayuti warga Jawa Barat khususnya seniman terjadi juga. Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan secara sah telah melarang seni tari jaipongan dan bajidoran dipentaskan di bumi pertiwi parahyangan.

Kasak-kusuk tentang larangan pentas Jaipongan ini beredar juga dari milis ke milis dan disampaikan pertama kali oleh Kiki Kurnia, wartawan Galamedia Bandung, melalui pesan singkatnya. Kasak-kusuk ini kemudian juga diamini salah seorang staff Disbudpar Jawa Barat, sebut saja Cecep.

“Gubernur Jabar telah melarang tari tradisional yang mengandung unsur 3G yakni, geol, gitek dan goyang, didalamnya adalah jaipongan dan bajidoran, abdi ge teu ngartos naha gubernur teh bet kitu nya…” ujar staff Disbudpar itu.

Informasi soal pelarangan tari Jaipongan ini juga dijelaskan Edi, wartawan Republika Bandung “Dalam beberapa kali ceramah di Kampus Unisba dan UPI bandung, Gubernur selalu bilang bahwa seni itu harus Islami, tidak boleh ada unsur goyangnya, ini kacau!” kecam Edi.

Kecaman senada juga disampaikan Matdon dari Majelis Sastra Bandung, “Persoalan seni budaya ini menjadi persoalan serius, mengingat budaya Jaipongan adalah budaya yang patut dipertahankan. Tradisi budaya warisan nenek moyang yang luhur itu, tidak boleh dikangkangi oleh kepentingan sekelompok manusia. Kita semua pasti beragama, seperti Gubernur yang Islami itu.”

“Susah kalau kacamata agama dikaitkan dengan budaya dalam hal ini jaipongan dan bajidoran.” ujar Matdon.

Selanjutnya Matdon mengimbau kepada seluruh warga Jawa Barat dan etnik Sunda dimana pun berada untuk menolak keputusan Gugbernur Jawa Barat ini. “Keputusan Gubernur Jawa Barat harus dilawan, kalau perlu kita lengserkan.” ancam Matdon.

Kendati kecaman demi kecaman terhadap isu keputusan Gubernur Jawa Barat ini terus berlangsung, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pihakpun yang dapat menjelaskan sejak kapan secara resmi pelarangan pementasan Seni Sunda yang “tidak Islami” ini dilontarkan oleh Gubernur Jabar.


Source : selebzone.com

Jumat, 09 Januari 2009

Material Technology

Masyarakat Sunda secara turun menurun dan tradisi telah mengenai Teknologi Material dimana saat ini di berbagai universitas juga dipelajari mengenai teknik dan tekonologi material ini.

Seperti kita ketahui teknologi material sangat lah penting dipelajari agar bangunan atau produk yang dihasilkan dapat bertahan lama dari segi durabilitasnya dan tentunya reliable baik dalam hal adaptasi dengan alam, suhu udara, kelembaban, dlsb.

Teknologi Material yang dikembangkan oleh Masyarakat Sunda adalah teknologi material yang organik dimana bangunan - bangunan yang dikembangkan oleh Masyarakat Sunda selalu memanfaatkan bahan - bahan/ material yang ada di alam seperti Batu Kali sebagai Pondasi/ Tatapakan, Kayu untuk Tiang, Bambu untuk lantai (talupuh), Dinding (bilik), Plafond (bilik) dan Rangka Atap (kaso dan reng), Atap (jjuk, daun, genteng tanah dan sirap), dlsb.

Teknologi Material tersebut telah terbukti dapat bertahan lebih dari 1000 tahun dari mulai Tarumanagara sampai ke Sumedang Larang. Sampai sekarang pun masih tersisa beberapa peninggalan rumah tradisional yang tersebar di perkampungan Sunda di pedalaman Jawa Barat sekarang.


Source : Nyaangan Alam Dunya

Kamis, 08 Januari 2009

Kuda lumping

Selain beberapa kesenian tradisonal sunda seperti Degung, Longser, benjang, kuda ronggeng atau tayuban lainnya, ada satu kesenian yang tidak kalah tersohor dikalangan masyarakat sunda yaitu “Kuda Lumping”.

Dari pamor yang ada ini menembus ke berbagai kalangan tentunya seperti halnya di ceritakan dalam bait-bait lagu yang tidak melewatkan kesempatan dengan mengambil tema masalah kuda lumping ini sebagai syair atau lirik lagu.

Sebagai contoh, Desa Ciwaru yang terletak di kaki Gunung Manglayang, Kabupaten Bandung, Jabar, masih terkenal dengan adanya kesenian kuda lumping yang memeriahkan berbagai hajatan/khitanan.

Kegemaran terhadap seni ini biasanya berlangsung secara turun-temurun. Tak mengherankan, bila segala kegiatan yang berhubungan dengan kuda lumping maupun kuda renggong berpusat di beberapa tempat yang sudah dikenal sebelumnya. Misalnya saja kuda renggong yang kita kenal itu banyak di daerah Sumedang. Kalau tepatnya saya juga tidak begitu hapal. Begitu pula dengan kuda lumping, masih sering muncul keberadaannya di sekitar Bandung Timur ini, konon katanya kesenian ini berlangsung secara turun-temurun dari leluhur mereka.

Kesenian ini biasanya ada pada warga yang melakukan hajatan (sunatan). Biasanya diramaikan dengan bunyi-bunyian terompet dan gendang. Dan bila bunyi-bunyian tersebut terdengar penduduk sekitar, hal ini menandakan ada suatu keramaian, lantas hampir seluruh penduduk desa di kaki gunung tersebut tumpah ruah di depan rumah milik seorang warga yang akan menggelar acara hajatan tersebut.

Sejak puluhan tahun silam atau mungkin lewat, khitanan di desa ini memang tak pernah lepas dari sebuah tradisi. Yakni, upacara memandikan dan mengarak pengantin sunat atau anak yang akan dikhitan. Tradisi ini diawali dengan pembacaan mantra penolak bala oleh salah seorang tetua desa. Agar prosesi khitanan berjalan lancar dan sang anak terhindar dari berbagai gangguan dari Batara Kala.

Sudah menjadi tradisi turun-menurun pula seorang bocah lelaki yang akan dikhitan diberi pendamping anak perempuan seusianya, layaknya sepasang calon mempelai. Kedua anak yang juga sering disebut pengantin sunat ini lantas dimandikan dengan air suci yang bersumber dari pegunungan di Parahyangan Timur. Upacara ini dilakukan agar fisik dan batin si anak menjadi bersih, seputih beras yang dijadikan simbol.

Usai dimandikan, pasangan pengantin sunat ini diarak dengan jampana, yaitu kursi tandu yang dipanggul empat orang dewasa. Mereka memutari desa dengan diiringi musik bamplang untuk mengabarkan ke seluruh desa bahwa esok hari si anak akan menjalani salah satu ritual yang dianjurkan agama Islam, yakni khitanan. Dan sepanjang jalan yang dilalui, musik tak henti-hentinya ditabuh.

Antusiasme penonton yang sebagian besar warga pun meningkat. Wajarlah, kesenian kuda lumping yang dipertontonkan sanggar kuda lumping ini pun kerapkali diwarnai berbagai atraksi magis. Unjuk kebolehan itu semuanya dalam pengawasan ahlinya atau disebut juga dengan pawang. Para penduduk biasanya mempercayai pawang tersebut memiliki kemampuan supranatural tinggi. Apalagi pemimpin sanggar kuda lumping itu biasanya cukup lama melatih anak-anak asuhnya untuk bermain kuda lumping dengan berbagai atraksi menakjubkan.

Keramaian kuda lumping mencapai puncak ketika para pemain tampak kesurupan. Dalam keadaan tanpa sadar, mereka melakukan hal-hal yang tak wajar. Semisal memakan ayam hidup-hidup atau beling (pecahan kaca). Cuma pawanglah yang nantinya dapat menghentikan segala atraksi tersebut, seperti hal memulainya. Para pemain kuda lumping dituntun untuk berbaring di atas tikar. Selanjutnya, pawang menyelimuti seluruh tubuh mereka dengan selembar kain. Setelah membacakan mantra, para pemain kuda lumping itu kembali sadar sediakala dan seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Jumat, 02 Januari 2009

Kian Santang

Oleh ROCHAJAT HARUN

GODOG adalah sebuah daerah pedesaan yang indah dan nyaman, berjarak 10 km kearah timur dari puseur dayeuh Garut. Tepatnya di Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Disana terdapat makam Prabu Kiansantang atau yang dikenal dengan sebutan Makam Godog Syeh Sunan Rohmat Suci. Hampir setiap saat banyak masyarakat yang ziarah, terlebih di bulan-bulan Maulud.

Prabu Kiansantang atau Syeh Sunan Rohmat Suci adalah salah seorang putra keturunan raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, dari prameswarinya yang bernama Dewi Kumala Wangi. Kian Santang lahir tahun 1315 Masehi di Pajajaran, mempunyai dua saudara, bernama Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang.

Pada usia 22 tahun, tepatnya tahun 1337 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi dalem Bogor kedua yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa, khususnya Jawa Barat.

Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa. Konon tak ada yang bisa mengalahkannya. Sejak kecil sampai dewasa, yaitu berusia 33 tahun, tepatnya tahun 1348 Masehi, Kiansantang belum pernah tahu seperti apa darahnya. Dalam arti, belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya. Sering kali dia merenung seorang diri, memikirkan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya. Akhirnya Prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya.

Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Kiansantang. Namun tak seorangpun yang mampu menunjukkannya. Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kiansantang adalah Sayyidina Ali, yang tinggal jauh di Tanah Mekah. Sebetulnya pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, namun kejadian ini dipertemukan secara gaib dengan kekuasaan Alloh Yang Maha Kuasa. Lalu , orang tua itu berkata kepada Prabu Kiansantang: “Kalau memang kau mau bertemu dengan Sayyidina Ali, kau harus melaksanakan dua syarat: Pertama, harus mujasmedi dulu di ujung kulon. Kedua, namamu harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang - Berani, Setra - Bersih/ Suci).

etelah Prabu Kiansantang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah pada tahun 1348 Masehi. Setiba di tanah Mekah, ia bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Sayyidina Ali, tetapi Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayyidina Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu.

“Kenalkah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?” tentu laki-­laki itu menjawab dengan jujur, mengiyakannya, bahkan ia bersedia mengantar Kian Santang. Sebelum berangkat, laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, “Wahai Galantrang Setra, tongkatku ketinggalan di tempat tadi, tolong ambilkan dulu!”

Semula Galantrang Setra tidak mau. Namun Sayyidina Ali mengatakan jika tidak mau, tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali. Terpaksalah Galantrang Setra kembali ketempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, bahkan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi, Kian santang berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi tongkat tetap tertancap di tanah dengan kokoh, sebaliknya kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluarlah darah dari tubuh Galantrang Setra.

Sayyidina Ali mengetahui kejadian itu, maka beliaupun datang. Setelah Sayyidina Ali tiba, tongkat itu langsung dicabut sambil mengucapkan Bismillah dan dua kalimat syahadat. Tongkatpun terangkat dan bersamaan dengan itu hilang pulalah darah dari tubuh Galantrang Setra. Galantrang Setra merasa heran, kenapa darah yang keluar dari tubuh itu tiba-tiba menghilang dan kembali tubuhnya sehat. Dalam hatinya ia bertanya. “Apakah kejadian itu karena kalimah yang diucapkan oleh orang tua itu tadi?”. Kalaulah benar, kebetulan, akan kuminta ilmu kalimah itu. Tetapi laki-laki itu tidak menjawab. Alasannya, karena Galantrang Setra belum masuk Islam.

Kemudian mereka berdua berangkat menuju Mekah. Setelah tiba di Mekah, di tengah perjalanan ada yang bertanya kepada laki-laki itu dengan sebutan Sayyidina Ali. Galantrang Setra kaget mendengar panggilan ”Ali” tersebut. Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi tiada lain adalah Sayyidina Ali.

Setelah Kiansantang meninggalkan Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Pajajaran), ia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan. Maka ia berpikir untuk kembali ke Mekah lagi dengan niat bulat akan menemui Sayyidina Ali, sekaligus bermaksud memeluk agama Islam. Pada tahun 1348 Masehi, Kiansantang masuk Islam. Ia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Jawa (Pajajaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya.

Setibanya di Pajajaran, ia bertemu dengan ayahnya. Kian Santang menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Pada akhir ceritanya, ia memberitahukan bahwa dirinya telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk memeluk agama Islam. Prabu Siliwangi kaget sewaktu mendengar cerita anaknya, terlebih ketika anaknya mengajak masuk agama Islam. Sang ayah tidak percaya, dan ajakannya ditolak.

Tahun 1355 Masehi, Kiansantang berangkat kembali ke tanah Mekah. Jabatan kedaleman, untuk sementara diserahkan ke Galuh Pakuan yang pada waktu itu dalemnya dipegang oleh Prabu Anggalang. Prabu Kiansantang bermukim di tanah Mekah selama tujuh tahun dan mempelajari ajaran agama Islam secara khusu. Merasa sudah cukup menekuni ajaran agama Islam, kemudian ia kembali ke Pajajaran tahun 1362 M. Ia berniat menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Kembali ke Pajajaran pun disertai saudagar Arab yang punya niat berniaga di Pajajaran sambil membantu Kiansantang mensyi’arkan agama Islam.

Setiba di Pajajaran, Kiansantang langsung menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat, karena ajaran Islam dalam fitrohnya membawa keselamatan dunia dan akhirat. Masyarakat menerimanya dengan tangan terbuka. Kemudian Prabu Kiansantang bermaksud menyebarkan ajaran agama Islam di lingkungan Keraton Pajajaran.

Setelah Prabu Siliwangi mendapat berita bahwa anaknya sudah kembali ke Pajajaran dan akan menghadap kepadanya. Prabu Siliwangi yang mempunyai martabat raja mempunyai pikiran. “Dari pada masuk agama Islam lebih baik aku muninggalkan keraton Pajajaran”. Sebelum berangkat meninggalkan keraton, Prabu Siliwangi merubah Keraton Pajajaran yang indah menjadi hutan belantara.

Melihat gelagat demikian, Kiansantang mengejar ayahnya. Beberapa kali Prabu Siliwangi terkejar dan berhadapan dengan Kiansantang yang langsung mendesak agar sang ayah dan para pengikutnya masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi tetap menolak, malah beliau lari ke daerah Garut Selatan. Kiansantang menghadangnya di laut Kidul Garut, tetapi Prabu Siliwangi tetap tidak mau masuk agama Islam. Dengan rasa menyesal, Kiansantang terpaksa membendung jalan larinya sang ayah. Prabu Siliwangi masuk ke dalam gua yang sekarang disebut gua sancang Pameungpeuk.

Prabu Kiansantang sudah berusaha mengislamkan ayahnya, tetapi Alloh tidak memberi hidayah kepada Prabu Siliwangi. Kiansantang kembali ke Pajajaran, kemudian membangun kembali kerajaan sambil menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok, dibantu oleh saudagar Arab sambil berdagang. Namun istana kerajaan yang diciptakan oleh Prabu Siliwangi tidak dirubah, dengan maksud pada akhir nanti anak cucu atau generasi muda akan tahu bahwa itu adalah peninggalan sejarah nenek moyangnya. Sekarang lokasi istana itu disebut Kebun Raya Bogor.

Pada tahun 1372 Masehi, Kiansantang menyebarkan agama Islam di Galuh Pakuan dan dia sendiri yang mengkhitan laki-laki yang masuk agama Islam. Tahun 1400 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi Raja Pajajaran, menggantikan Prabu Munding Kawati atau Prabu Anapakem I. Namun Kiansantang tidak lama menjadi raja, karena mendapat ilham harus uzlah, pindah dari tempat yang ramai ketempat yang sepi. Dalam uzlah itu, ia diminta agar bertafakur untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dalam rangka mencapai kema’ripatan. Kepada beliau dimintakan untuk memilih tempat tafakur dari ke 3 tempat, yaitu Gunung Ceremai, Gunung Tasikmalaya, atau Gunung Suci Garut.

Waktu uzlah harus dibawa peti yang berisikan tanah pusaka. Peti itu untuk dijadikan tanda atau petunjuk tempat bertafakur nanti, apabila tiba disatu tempat peti itu godeg/ berubah, maka disanalah tempat dia tafakur, dan kemudian nama Kiansantang harus diganti dengan Sunan Rohmat. Sebelum uzlah, Kiansantang menyerahkan tahta kerajaan kepada Prabu Panatayuda, putra tunggal Prabu Munding Kawati.

Setelah selesai serah-terima tahta kerajaan dengan Prabu Panatayuda, maka berangkatlah Prabu Kiansantang meninggalkan Pajajaran. Tempat yang dituju pertama kali adalah Gunung Ceremai. Setibanya disana, peti diletakan di atas tanah, tetapi peti itu tidak godeg alias berubah. Kiansantang kemudian berangkat lagi ke gunung Tasikmalaya, disana juga peti tidak berubah. Akhirnya Kiansantang memutuskan untuk berangkat ke gunung Suci Garut. Setibanya di gunung Suci Garut, peti itu disimpan diatas tanah, secara tiba-tiba berubahlah peti itu. Dengan godegnya peti tersebut, berarti petunjuk kepada Kiansantang bahwa ditempat itulah beliau harus tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat itu kini diberi nama Makam Godog.

Prabu Kiansantang bertafakur selama 19 tahun. Sempat mendirikan Mesjid yang disebut Masjid Pusaka Karamat Godog yang berjarak dari makam godog sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu Kiansantang namanya diganti menjadi Syeh Sunan Rohmat Suci dan tempatnya menjadi Godog Karamat. Beliau wafat pada tahun 1419 M atau tahun 849 Hijriah. Syeh Sunan Rohmat Suci wafat di tempat itu yang sampai sekarang dinamakan Makam Sunan Rohmat Suci atau Makam Karamat Godog



Sumber "klik"

Kesenian Benjang

Benjang adalah jenis kesenian tradisional Tatar Sunda, yang hidup dan berkembang di sekitar Kecamatan Ujungberung, Kabupaten Bandung hingga kini. Dalam pertunjukannya, selain mempertontonkan ibingan (tarian) yang mirip dengan gerak pencak silat, juga dipertunjukkan gerak-gerak perkelahian yang mirip gulat.

Seperti umumnya kesenian tradisional Sunda yang selalu mempergunakan lagu untuk mengiringi gerakan-gerakan pemainnya, demikian pula dalam seni benjang, lagu memegang peranan yang cukup penting dalam menampilkan seni benjang. Misalnya, pada lagu Rincik Manik dan Ela-Ela, pemain benjang akan melakukan gerakan yang disebut dogong, yaitu permainan saling mendorong antara du apemain benjang dengan mempergunakan halu (antan) dalam sebuah lingkaran atau arena. Yang terseret ke luar garis lingkaran dalam dogong itu dinyatakan kalah.

Dari gerakan dogong tadi kemudian berkembanglah gerakan seredan, yaitu saling desak dan dorong seperti permainan sumo Jepang tanpa alat apa pun. Begitu pula aturannya, yang terdorong ke luar lingkaran dinyatakan kalah. Gerak seredan berkembang menjadi gerak adu mundur. Dalam gerakan ini yang dipergunakan adalah pundak masing-masing, jadi tidak mempergunakan tangan atau alat apa pun. Selain itu, ada pula yang disebut babagongan, yaitu gerakan atau ibingan para pemain yang mempertunjukkan gerakan mirip bagong (celeng atau **** hutan), dan dodombaan yaitu gerakan atau ibing mirip domba yang sedang berkelahi adu tanduk.





Peraturan untuk babagongan, dogong, seredan maupun adu mundur dan dodombaan adalah melarang pemain menggunakan tangan. Namun, karena seringnya terjadi pelanggaran, terutama oleh pemain yang terdesak, tangan pun tak terhindarkan sering turut sibuk, meraih dan mendorong. Oleh karena itu, dalam peraturan selanjutnya tangan boleh dipergunakan dan terciptalah permainan baru yang disebut genjang.

Benjang sebagai perkembangan dari permainan adu munding (kerbau), lebih mengarah pada permainan gulat. Di dalamnya terdapat gerakan piting (menghimpit) yang dilengkapi dengan gerak-gerak pencak silat. Apabila diperhatikan, bentuk dan gerakan seni genjang ini termasuk seni gulat tradisional.

Tidak ada peraturan khusus mengenai lawan atau pemain, baik berat badan, maupun tinggi rendahnya pemain serta syarat-syarat lainnya. Sebagai pertimbangan hanyalah keberanian dan kesanggupan menghadapi lawan. Peraturan satu-satunya adalah apabila lawan tidak dapat membela diri dari himpitan lawannya dalam keadaan terlentang. Dalam keadaan demikian, maka pemain tersebut dinyatakan kalah. Selanjutnya permainan terus berjalan dengan silih berganti pasangan. Akhirnya, istilah genjang berubah menjadi benjang.

Waditra yang dipergunakan adalah: terebang, kendang, bedug, tarompet dan kecrek. Lagu-lagu yang dibawakan di antaranya: Kembang Beureum, Sorong Dayung, dan Renggong Gancang. Pertunjukan diselenggarakan di tempat terbuka, seperti halaman rumah, dan lapangan. Pertunjukan dimulai pada malam hari pukul 20.00.

Dalam perkembangannya, pertunjukan benjang dilengkapi dengan kesenian lain seperti badudan, kuda lumping, bangbarongan, dan topeng benjang. Seni benjang kemudian melebar hingga ke Desa Cisaranten Wetan, Desa Cisaranten Kulon, Kecamatan Buahbatu, Kecamatan Majalaya, dan Kecamatan Cicadas, Kota Bandung.

Tokoh-tokoh pendiri dan pembaharu perkembangan seni benjang adalah Mama H. Hayat (alm) dan Abah Asrip (alm), keduanya dari Desa Cibiru, Kecamatan Ujungberung, kemudian Abah Alwasih (alm) dari Desa Ciporeat, Kampung Ciwaru, Kecamatan Ujungberung, lalu Mama H. Enjon (alm), seorang tokoh pencak silat yang melengkapi benjang dengan unsur-unsur pencak silat, dan terakhir Nunung Aspali, seorang tokoh yang masih hidup dan memimpin perkumpulan seni benjang “Putra Pajajaran” di Kecamatan Ujungberung.

da suatu keistimewaan dalam permainan banjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.

Menurut pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi, Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis catat.

Seperti kita ketahui bahwa negara kita yang tercinta ini kaya dengan seni budaya daerah. Ini terbukti masing-masing daerah memiliki kesenian tersendiri (khas), seperti benjang adalah salah satu seni budaya tradisional Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung dan ternyata di daerah lainpun ada seni budaya tradisional semacam benjang, seperti di daerah Aceh disebut Gedou – gedou, di daerah Tapanuli (Sumut) disebut Marsurangut, di daerah Rembang disebut Atol, di daerah Jawa Timur disebut Patol, di daerah Banjarmasin disebut Bahempas, di daerah Bugis/Sulsel disebut Sirroto, dan di daerah Jawa Barat disebut Benjang.


(Sumber : Padepokan Benjang Makalangan, Sekretariat : Cibolerang,
Cinunuk,Kabupaten Bandung – Jawa Barat)



Vyan Sultan

Jumat, 26 Desember 2008

ASTANA DALEM

Carita Pondok Sarabunis Mubarok

Da ampir unggal jumaah atuh aprak-aprakan di Astana Dalem teh, najan ceuk batur minculak, ulin sosorangan di tempat sanget, uing mah angger bae resep, najan gawe ngan mulungan kalapa jenggi keur kongkorong kaulinan. Mun teu kitu ngadon nirukan daun katapang, keur nyieun paparahuan, abringkeuneun di walungan Ciputri, marengan parahu tapas meunang ngarerab, sok ngebul, haseupna sok hayangeun ditutur-tutur. Kalan-kalan tepi ka situ Panganten ngabringkeun parahu tapas jeung daun katapang teh. Cacak sorangan, teuing da bet ludeung, jeung resep deuih, sakitu babaturan di lembur mah taya nu waranieun, tong boro-boro sorangan, diarajakan oge sok arembungeun. Pajarkeun teh Dalem Sawidak nu ngageugeuhna Astana sok ngajirim bari nungtun singa kajajaden nu mindah rupa ti Sembah Dalem Singaparna. Ceunah eta oge. Uing mah teu pati percaya ieuh.

Mun keur usum ngangler tepi ka anyar tandur mah, biasana memeh ka astana teh sok ngurek heula. Urekna meunang nyieun sorangan, eta geuning, kenur paranti langlayangan, dijieun tilu pantengan, tuluy di gantung, handapna di talian ku batu, puhuna make useup urek meunang meuli ti Mang Komar nu huntuna pohang urang Legok Apu, tah batu teh diputer-puter tiluannana piligenti, geus kitu tuluy dihijikeun bari ditalian lebah batuna. Tingperengkel we eta kenur teh. Resep keur kituna tah. Ujug-ujug jadi be urek teh.

Mun ngurek, karesep teh di sawah Abah Udi, kitu uing bisa nyebutna, padahal eta sawah teg bobogaan Haji Suherlan. Abah Udi mah nu merteluna. Tapi da geus lumrah nyebut teh sawah Abah Udi. Da atuh lain bohong di eta sawah mah, lian ti meunang belut teh sok katambahan ku cau manggala atawa nangka walanda. Bongan ku Bah Udi teu diala-ala bae, tinimbang ku cocodot, meunding dipaok ku uing, tuluy dipeuyeum di Astana Dalem. Lah, mun Bah Udi nanyakeun mah, dijawab ku kecap 'teuing' oge, cukup. Paling paling ngawakwak nyarekan kamana karep. Ku uing mah dijebian oge sok kalah boseneun.

Balik ngurek, kakarek ka Astana Dalem, mun meunang belut mah, jaba ti murak cau manggala atawa nangka walanda meunang meuyeum, sok bari meuleum belut, teuing da ojol-ojol boga ide meuleum belut dina tapas meunang ngarerab, belutna tinggal neundeun bae dina tapas ruhay, tuluy tapasna ditiupan, seungit teh, dibulak balik, diambungan deui, ah, teuing asak teuing hanteu, pokona mah karasana teh ngeunah bae. Cacakan ditambul eta the, komo mun make sangu pulen meunang Ema mah. Ah pedo pisan meureun.

Tah ide nu ka dua nu bijil teh, nyaeta basa miceun tapas urut meuleum belut. Da ujug-ujug hayang ngalungkeun ka walungan Ciputri, nu caina herang, jaba iuh, jeung loba batu paranti ajlok-ajlokan, jadi teu kudu babaseuhan. Da tapas teh atuh siga nu betah ngangkleung di walungan Ciputri mah. Ah, geuning nyaan endah nempo tapas angkleung-angkleungan teh, hasepna ngelun, panjaaang teh. Siga-siga nu hayang ditutur-tutur.

Edas da, datang deui ide ka tilu, nyaeta mulungan daun katapang, diabringkeun sina nutur-nutur tapas ruhay. Asa resep nenjokeunnana, siga armada perang karajaan Banten baheula, ceuk beja eta oge, tuluy ku uing di cipta-cipta, asa waas teh.

Nyaan da Astana Dalem mah atuh, bubuhan uing mah can dikariakeun meureun harita teh, Eta da ujug-ujug resep mulungan kalapa jenggi nu geus marurag, padahal ceunah mun nu geus dikariakeun mah sok diheureuyan ku jurig kalajenggi. Tapi keur uing jadi ide, tuluy kalapa jenggi teh dijieun kongkorong, talina tina rapia bae, eta oge meunang maok tina pager kebon Ki Ihan. Sanggeus kitu neangan harupat ti beh kulon, keur pepedangannana, lah da ari rap teh dudukuy, meuni asa jadi tentara.

Mun geus saged, abringan kapal perang teh ditutur-tutur bari ngawih lagu 'Aku Seorang Kapiten' tea nu tuluyanana mah sabulang-bentor, bubuhan bisana oge meunang tuturut munding ka si Teteh. Bari ngawih teh leumpang digaya-gaya, dicipta-cipta jadi kapiten tea. Sakapeung pedang harupat teh di angkat bari ngagorowok, siga nu keur mimpin pasukan.

Beak walungan Ciputri, nyambung ka walungan Cilalaki, caina rada coklat, loba taneuh nu milu palid ti girang meureun, jaba loba rungga deuih, da harupat oge mindeng potong mun nyuay-nyuaykeun rungga di Cilalaki mah. Lian ti kitu teh, panas, carang pisan tatangkalan, pungkal-pengkol deuih, ah, sok hoream teh nutur-nuturna sakapeung mah. Belah wetanna aya curug leutik, da rarasaan teh aya bahaya atuh, uing sok gogorowokan mere tangara, bisi parahu tapas kelebuh, mun kelebuh pan pareum, pes we euweuh haseupan, pan teu rame, terus we hoream. Mun parahu tapas salamet, uing sok ajrag-ajragan bari neruskeun nutur-nutur abringan armada parahu tapas nepi ka Situ Panganten.

Ari di Situ Panganten, lambakna bangor, sok neumbrag parahu tapas. Matak tara lila di Situ Panganten teh, padu tepi bae, da mun parahu geus tepi mah sok ngadadak jadi teu purun lila-lila, parahu tapasna oge sok kalah pareum, sigana sarua hoream neruskeun, meureun sarua, padu tepi ka situ panganten, ka dituna mah palid bari pareum, atawa kelebuh, da dieundeuk-eundeuk ku lambak nu rada galak.

Ngan teuing naon atuh sababna, ti saprak Aom Keli maot, anu ceuk kolot-kolot mah ceunah gara-gara gancet waktu keur bobogohan jeung Ceu Entik di Astana Dalem. Ceu Entik, nu sakolana teuing di universitas nanahaon atuh di Jakartana teh, nu kabeneran keur pere, aya di lembur teh ngadon gancet, ceunah. Ah, teu ngalalarti, jol guncat-gancet sagala, da sakanyaho uing mah harita, basa rek nunutur armada tea, Aom Keli jeung Ceu Entik teh menta belut ka uing, tuluy mere duit, nya bungah atuh, aya nu rek botram butuh deungeun sangu, aya belut, heg dibeuli, pan bisa jajan, pan di kalereun Situ Panganten teh loba warung, apanan siga kapiten the, ari boga duit maratus mah. Ah teu ngarti, nyaan, ujug-ujug aya sakadang gancet sagala, pira oge botram, deungeunana jeung belut, piraku sakadang gancet hayangeun.

Terus, lamun sakadang gancet teh galak, naha geuning tara nanaon ka uing, Nyaan da can kungsi manggihan tah sakadang gancet teh, rek di Astana Dalem, rek di walungan Ciputri, rek di Walungan Cilalaki, atawa di situ panganten oge, mun bancet, di sawah oge loba. Jeung anehna naha Aom Keli jeung Ceu Entik bisa eleh ku si gancet. Kitu pikiran uing harita.

Ngan teuing kunaon, naha uing jadi teu meunang ulin deui di Astana Dalem? Da uing mah teu sieun ku si Gancet, pan uing mah boga pedang harupat, dibabuk bae mun ngaheureuyan mah, Atawa di baledog ku kalapa jenggi, pasti sieunneun, pikir teh. Jeung lamun enya sakadang Gancet nu maehan Aom Keli jeung Ceu Entik, naha Dalem sawidak jeung Singa jiriman Sembah Dalem Singaparna nu ngageugeuh Astana Dalem euweuh ketak. Ah meureun bohong sigana eta beja teh. Bohong sawareh atawa, kitu nu kaharti ku uing.

Ngan angger bae, Si Ema nyarek uing ulin ka Astana Dalem, ceunah komo ka Situ Panganten mah, ulah, pajarkeun teh bisi aya jurig kalajenggi nu hayangeun nginum, nu sok lunta ti Astana Dalem muru Situ Panganten mapay-mapay Cilalaki, Aneh, sakitu jenggina oge ku uing sok dipulungan, jaba uing mah pan can dikariakeun ieuh. Jeung aneh naha tara garelut eta Kalajenggi, Sakadang Gancet jeung Dalem Sawidak katut singa kajajaden teh.

Kabehdieunakeun, uing jadi embung dikariakeun, ngahaja be mere tanjakan, jiga nu ngarti bae, uing teh menta hayang ulin heula ka astana dalem, tuluy hayang mulung kalapa jenggi, tuluy neang harupat keur pepedangan, tuluy biasa bae nyieun abringan armada parahu tina tapas ruhay jeung daun katapang, tuluy hayang pawey mapay-mapay walungan Ciputri jeung Cilalaki, tuluy hayang nyarekan lambak nu galak di situ panganten. Tuluy we hayang dikariakeun teh.

***

Kiwari, sanggeus uing boga pagawean nu maneuh, sanggeus indung uing nanagih piminantueun, sanggeus leuwih ti dua puluh taun uing teu nincak-nincak deui Astana Dalem, asa kadenge ti saban juru Astana, tangkal caringin nu jaranggotan ngaheabkeun hawa keueung. Tina sela dangdaunan panonpoe kumejot hayang nguyab taneuh saab. Angin sawah tingsariak, ngangajak ngurek deui ka uing. Belah wetanneun Astana Dalem, tangkal nangka walanda ngabibita jiga nu hayang dipaok deui ku uing. Uing nangtung bari ngimpleng leuwih anteng. Ret ka belah kenca aya keneh tangkal kalapa jenggi oge, ngan geus euweuh nu ngarumat, walungan Ciputri masih keneh angger loba batu rarentul, ngan caina jadi kotor, ceunah di beh girangna geus jadi kota, malah geus aya pabrik sagala. Cilalaki oge ayeuna mah geus dikepung ku lembur, rame ceunah, sedeng Situ Panganten nu lambakna rada galak, geus jadi objek wisata, loba nu dagang, loba turis, loba parahu paranti nu arulin lalayaran, parahu nu ide-na ti uing, ti dieu ti Astana Dalem, tina belut, tina kalapa jenggi, ti seorang kapiten nu kiwari geus dikariakeun.

Ngan teuing kunaon, Astana Dalem pangulinan teh karasana jadi geueuman. Inget deui kana carita Dalem Sawidak jeung Singana, Ayeuna mah uing teh jadi ngarasa keueung. Puriding teh bulu punduk narangtung siga nu dikomando. Uing neuteup ka sakuriling astana, tuluy diuk dina batu neger-neger karep. Ras inget ka ka Situ Panganten. Teu karasa kuring ujug-ujug nyawang mangsa katukang, katempo abringan daun katapang jeung tapas ngebul jiga nu ngahiap-hiap. Kadenge keneh lagu 'Aku Seorang Kapiten' hawar-hawar, Ngan aneh haseup nu ngelun tina tapas teh bet muru ka lebah uing, beuki lila beuki deukeut, beuki deukeut, beuki deukeut, gebeg! Uing ngarenjag tuluy Istighfar, ret kana batu nu didiukan, puriding teh bulu punduk nyasaak hate, kabaca dina batu teh aya tulisan, tetela nu didiukan teh tetengger Aom Keli, nu dua puluh taun kalarung meuli belut meunang meuleum ka uing. Ras inget deui ka sakadang gancet, naudzubillahimindzalik. ***

Singaparna, 2002-2003

sumbangan carita ti baraya Vyan Soeltan

Kamis, 20 November 2008

Peuyeum

Di mana-mana di kampung di kota
tos kakoncara ku nikmat rasana



Bagi orang yang datang ke daerah tanah sunda khususnya kota Bandung, lirik lagu yang terkenal diatas dapat dilanjutkan dengan kalimat peuyeum Bandung kamasur, pangaosna teu luhur...Ya betul PEUYEUM bandung dikenal sebagai jajanan khas dari kota Bandung, yang biasanya dijual dengan daun pisang atau tergantung secara terikat dalam jumlah yang banyak di pelataran jalan-jalan yang ada.

Bagi penjualnya makanan khas ini diakui dibuat dengan susah-susah gampang dimana dalam prosesnya, pembuatan peuyeum ini tidak membutuhkan waktu yang lama, berapa pun jumlah singkong yang akan diolah. Dimana pada mulanya singkong sebagai bahan dasar peuyeum sebelumnya dilakukan proses penggodokan singkong kemudian dilakukan proses selanjutnya yang membutuhkan proses pembuatannya sekitar enam hingga delapan jam yaitu diantaranya proses peragian, dimana didalam proses pembuatan peuyeum yang dilakukannya hanya sampai pengolesan ragi. Sedangkan proses menyimpan singkong beragi itu selama satu malam. Menurut penjualnya pada umumnnya ketahanan peuyeum ini adalah empat hari.

Peuyeum ini pada dasarnya dapat disajikan dengan berbagai pilihan diantaranya yaitu peuyeum bol (peuyeumnya kecil tapi gemuk. Sunda: bol berarti gemuk). Adapun Cara pembuatannya dengan menggoreng peuyeum yang sudah dicampur tepung terigu, kemudian setelah matang ditiriskan. Lalu disajikan dengan ditaburi gula halus.

Selain itu juga pilihan yang lain dapat diolah juga menjadi colenak. Olahan yang dimaksud yaitu peuyeum mentah pilihan ini dibakar di atas panggangan arang. Setelah matang kemudian disajikan bersama bumbu khas yang selalu menyertainya, yaitu kinca; yang berupa adonan gula merah yang telah dicampur dengan parutan kelapa dan ditambahkan aroma alami dari kadu (durian) atau nangka.

Di beberapa cafe kota bandung jenis makanan ini dimodfikasi dengan sedmikian rupa sehingga memperkaya khasanah kuliner kota Bandung dengan cara yang kreatif dilakukan oleh masing-masing kreator, seperti ada yang berkereasi dengan keju, dengan strawbery dan lainnya yang sesuai dengan selera sehingga menarik minat pembeli yang ada. Selain upaya memodifikasi akan olahan jajanan peuyeum ini upaya lain yang dapat dilakukan para pelaku kreator adalah dengan membuat daerah tersendiri yang lebih menarik, lengkap dengan berbagai jajanan. Tempat ini akan menjadi pilihan yang lebih representatif dari sekadar pasar yang telah ada saat ini sebagai tempat penjaja makanan oleh-oleh. Penataannya pun tentu harus dibuat lebih nyaman dan mengesankan wisatawan. Jadi tak perlu repot-repot masuk pasar dan belepotan membawa barang hanya untuk mendapatkan oleh-oleh Bandung.


SUMBER

Senin, 17 November 2008

Batutulis Ciaruteun

Salian ti Batutulis patilasan Karajaan Pakuan Pajajaran (Sunda) anu aya di Kota Bogor, tegesna di Kalurahan Batu Tulis Kacamatan Bogor Selatan, di Kampung Muara Kacamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Aya Batu Tulis jeung tapak Suku Gajah, ciciren kungsi ayana hiji karajaan. Prasasti anu aya nu di wewengkon Cibungbulang ieu, numutkeun hasil panalungtikan jeung catetan sajarah anu aya, dijieun dina abad ka 4 mangsa Karajaan Tarumanagara dicangking ku Prabu Purnawarman anu lahir dina taun 327 Masehi, diistrenan jadi raja (nyepeng kalungguhan) dina taun 395 M. Samemeh Purnawarman nyangking kalungguhan, poseur pamarentahan ayana di Jayasingapura anu diadegkeun ku Jayasingawarman, akina Punawarman anu nyangking kakawasaan salila 24 taun ( 358-382 M ). Saatos pupus Prabu Jayasingawarman, Karajaan Tarumanagara diteruskeun ku Prabu Darmayawarman anu saterusna ka Purnawarman. Pikeun kaperluan pamarentahan di jaman harita, Prabu Purnawarman mindahkeun puseur karajaan ka belah kaler, anu saterusna dingaranan Sundapura.
Dumasar kana sajara anu aya, datangna Jayasaingawarman ka Pulo Jawa, lantaran di nagara asalna, India, aya bancang pakewuh.

“Di India bahuela aya dua karajaan anu salawasna pacogcegran nyaeta Karajaan Palawa jeung Salankayana, “ ceuk Atma anu geus puluhan taun nyangking juru piara Situs Ciaruten. Saurna, kajadianana lumangsung dina taun 314 M. Salah sahiji raja Salankayana, Samudra Gupta ahirna nyieun karajaan anyar anu dingaranan Karajaan Maurya. Kulantaran kadeseh jeung sieun ditandas, raja jeung kulawargana nyumput di leuweung, aya oge anu kabur ka gunung, malah teu saeutik anu lumpat ka laut, nyabrang lautan. Salah sahijina Jayasingawarman, Maharesi Karajaan Salankayana. Ngagunakeun kapal saayana, Jayasingawarman jeung kulawargana, dibaturan balad-baladna, tepi ka wahangan Citarum anu ayana di Jawa Barat. Di dinya Jayasingawarman ngadegkeun Karajaan Tarumanagara anu dituluykeun ku putrana Raja resi Darmawiyarmanaguru.
Maharesi Jayasingawarman nyangking kalungguhan salila 24 taun (358-382), pupus dina yuswa 60 taun. Hasil pananlungtikan anu dilaksanakeun salila dua taun (1970 - 1972), di sisi wahangan Ciaruteun anu pernahna teu jauh ti Batu Tulis, tim panalungtik mangihan rupa-rupa barang paniggalan jaman bahuela diantarana menhir, batu dakon jeung susunan batu undak-undakan. Salian ti eta oge kapanggih sababaraha barang saentas jaman Karajaan Tarumanagara diantarana geulang tina batu, mangkok anu bahanna tina parunggu, manik-manik, kereweng jeung porselen anu diperkirakeun asalna ti abad ka 12 Mahesi jeung ka 16. Dumasar kana hasil panalungtikan, numutkeun barang-barang anu kapanggih bias dsimpulkeun ywn agama anu diagemna, Hindu jeung Budha. Barang-barang sajarah anu kapanggih di wahangan Ciaruteun atawa kawentar Prasasti Ciaruteun. Disisi prasasti aya gambar lancah jeung tapak suku jalma ditambah tulisan anu lobana opat baris. Eusina mangrupa sajak Anustubh, bvahan batuna andesit, hurupna Palawa bahasana sangsekerta. Sedeng prasasti Kebon Kopi anu kapanggih sawaktu ngabukbak leuweng sawaktu rek dijieun kebon kopi ku bangsa walanda. Dina prasasti ieu aya tulisan palawa anu lobana sabaris, bahasana sangsakerta jeung Tapak Suku Gajah. Nu sejena, disebut prasasti Muara, pernahna di sisi Cisadane, Muara Cianten mang rupa batu gede lonjong dina batu aya tulisan huruf galing jeung huruf Sangka. Sedeng Situs Kampung Muara aya batu dakon jeung menhir anu sok disebut Prasasti Batu Dakon nandakeun yen didinya kungsi aya kahirupan megalitik jeung tradisi kaagamaan di jaman harita. Anapon eusi Prasasti Ciaruteun nyaeta : Vikkranta syavani pateh Srimatah purnawamanah Tarumanagara Visnoriva padadwayam
Hartina : Ieu (urut) dua suku nu kawa suku Dewa Wisnu Nyaeta suku anu mulya sang Purnawarman Raja di Nagara Taruma Raja nu gagah jeung wani di dunya Sedeng eusi Prasasti Kebon Kopi nyaeta : Javavisalasya Tarumandrasya hastinah Airavatabasya vitabhatidam padadvayam
Hartina : Di dieu katempo sapasang tapak suku gajah anu kawas airawata, gajah nu kumawasa di Taruna nu agung. (Soleh/Dadang H sumber : Proyek Penelitian Terpadu Sejarah Kerajaan Tarumanagara) Kulawarga Agung Para Raja Tarumanagara (Bekasi-Karaang-Cikampek-Subang-Cianjur-Cariu)
1. Prabu Jayasingawarman (385-382)
Ngagunakeun kaal saayana, Jayasingawarman jeung
2. Prabu Darmayawarman (382-395)
3. Prabu Purnawarman ( Gelar : Prabu Ranggita Arga Somardirya) (395-434)
4. Prabu Wisnuwarman (434-455)
5. Prabu Indawarman ( Prabu Sanggana Arkada Laksmana ) (455-515)
6. Prabu Candrawarman (Prabu Rangga Arta Bardawiguna) (515-535)
7. Prabu Suryawarman (Prabu Langgawe Bisutha Satria ) (535-561)
8. Prabu Kertawarman (561-628)
9. Prabu Sudawarman (628-639)
10. Prabu Dewamurtiwarman ( Prabu Runggula Astila Bramawisesa ) (639-640)
11. Prabu Ngajayawarman Prabu Arggasaloka Mundra Karwita (640-666)
12. Prabu Linggawarman ( Prabu Janggapati Sanca Hilingga ) (666-669)

Dicutat tina :
Majalah Basa Sunda
Hanjuang Bodas
Winarah Hing Yuga Walatra
Edisi 03 - 2008

Kembali Ke Alam Badui

Bayangkan tempat yang damai, dilingkupi rerimbunan menghijau. Suara khas alam gemerisik angin di sela-sela daun bambu, cicit burung yang nyaring namun merdu, deburan arus sungai. Kampung Badui, berada di bukit gunung Kendeng, menawarkan pemandangan serta suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Kampung Badui berjarak sekitar 75 kilometer dari Rangkasbitung, Jawa Barat tempat sempurna bagi Anda yang ingin merasakan suasana alami. Sesuai bagi yang suka berpetualang.

Cara Mencapai Daerah Ini

  1. Menyewa mobil. Perhentian terakhir bagi kendaraan bermotor adalah Desa Ciboleger.
  2. Dari Tanah Abang, Jakarta Pusat, dengan menaiki kereta ke arah Merak via Rangkasbitung. Perjalanan ini akan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Dari Rangkasbitung, naiklah angkutan kota (yang biasanya disebut ELF oleh penduduk setempat) ke Ciboleger. Kurang lebih akan memakan waktu 2,5 jam.


Patung Keluarga Pak Tani di Ciboleger akan menyambut Anda. Ikuti jalan setapak, nikmati pemandangan indah di sekitar Anda. Anda kemudian akan melewati Desa Gajeboh. Di sini, kalau Anda beruntung, Anda dapat melihat perempuan Baduy menenun kain. Teruskan perjalanan Anda dengan cara melewati Sungai Ciujung, sungai terlebar di wilayah Baduy. Jembatan dari bambu yang diikat mungkin akan membuat Anda khawatir, tapi tenang saja, jembatan ini sudah terbukti kekuatannya. Kemudian Anda akan memasuki Desa Cicakal. Di sini Anda dapat beristirahat dan menginap. Perjalanan dari Ciboleger ke Cicakal memakan waktu kurang lebih 2 jam.

Untuk mencapai Kampung Baduy Dalam, Anda dapat menggunakan jalan Koranji yang melewati Pasar Kroya. Setial minggu, penduduk Baduy mengunjungi pasar ini untuk menukar hasil bumi mereka dengan apapun yang mereka butuhkan. Dari pasar ini mereka kemudian akan bergerak ke Desa Cikapol.

Tempat Menginap
Rumah-rumah tradisional Baduy, di Desa Cicakal. Rumah-rumah tradisional ini dibangun dari jalinan bambu dan atap ijuk. Satu rumah dapat bertahan hingga 25 tahun (asalkan bagian atap diganti setial 5 tahun sekali). Orang Baduy tidak menggunakan teknologi modern, jadi jangan berharap akan adanya listrik di sini.

Berkeliling
Berjalan kaki. Hutan yang rimbun serta pemandangan yang menyejukkan hati akan menemani Anda. (Penduduk Baduy tidak pernah merusak lingkungan, jadi Anda dapat mengharapkan lingkungan yang masih asri di sini) Anda boleh-boleh saja berfoto-foto sebelum mencapai daerah Baduy Dalam. Penduduk di perkampungan Baduy Luar lebih toleran terhadap penggunaan teknologi.


Tempat Bersantap

Di Baduy tidak ada restoran, jadi bawalah makanan Anda sendiri. Terkadang Anda juga dapat meminta penduduk lokal untuk membagi makanan mereka dengan Anda.


Buah Tangan

Kain tradisional (biasanya berwarna biru) yang ditenun perempuan Baduy.

Yang Dapat Anda Lihat Atau Lakukan

Adapun hal-hal yang dapat Anda lihat atau lakukan selama berada di Baduy adalah sebagai berikut:

  • Mengagumi rumah tradisional Baduy,
  • Memperhatikan perempuan Baduy menenun dan aktivitas penduduk Baduy lainnya (menakjubkan betapa banyak hal yang dapat dilakukan tanpa adanya listrik!).
  • Berfoto-foto di Baduy Luar. Berfoto boleh saja dilakukan, tetapi terbatas hanya di daerah Baduy Luar (Panamping) saja. Akan lebih baik bila Anda meminta izin terlebih dahulu kepada orang (terutama) yang akan kita ambil fotonya. Bila tidak diizinkan, maka jangan mencoba untuk melanggarnya. Hal ini juga berlaku untuk peralatan kamera video pun boleh dibawa dan digunakan di Panamping.
  • Berjalan kaki selama dua jam memang tampaknya tak terlalu sulit, tapi ingat juga bahwa Anda akan melewati medan yang masih alami, juga sungai.

Tips Perjalanan

  • Bawa makanan, minuman, juga obat-obatan yang mungkin Anda akan butuhkan.
  • Pastikan bahwa Anda berada dalam kondisi yang fit.
  • Pakailah baju yang sesuai yang akan memudahkan Anda bergerak, sebaiknya dari bahan katun. Bawalah baju ganti dan handuk. Gunakan sepatu kets untuk enyamanan Anda.
  • Bawalah senter untuk berjalan di malam hari. Penduduk Baduy menggunakan damar (lampu dari minyak) yang mungkin tidak akan cukup praktis bagi Anda.
  • Bawalah payung atau jas hujan, untuk berjaga-jaga.
  • Bagi yang memerlukan pembimbing atau pemandu, dapat menghubungi beberapa biro wisata yang menjadikan Baduy sebagai tujuan. Contohnya, Anda dapat menghubungi Trekmate, Mapala UI, Caldera, dan biro wisata lainnya.
  • Hormati tradisi penduduk lokal juga kebiasaan mereka. Sebagai contoh, jangan mengambil apapun yang bukan menjadi hak Anda di daerah Baduy Dalam, biarpun hanya satu butir kerikil sekalipun.
  • Jangan sekali-kali membawa (apalagi menggunakan) kamera foto dan video ke Baduy Dalam (Girang/ daerah Tangtu). Jangankan menggunakannya, walau utk pemandangan alamnya, membawanya saja tidak diperbolehkan.

Kamera video pun boleh dibawa dan digunakan di Panamping.


SUMBER

Jumat, 14 November 2008

Kampung Naga


Kira-kira tiga ratus anak tangga mesti dilalui untuk mencapai Kampung Naga, sebuah kampung di lembah gunung Cikuray, yang masih memegang kuat adat dan tradisi leluhurnya.

Menapaki seratus anak tangga pertama, yang terlihat hanya deretan pohon eboni dan albasia yang menjulang. Seratus anak tangga berikutnya, suguhan nikmat berupa pemandangan petak-petak sawah akan tersedia untuk Anda. Di seratus anak tangga terakhir, barulah tampak deretan rumah bercat putih dengan atap ijuk berwarna hitam, dikelilingi bukit yang penuh dengan pepohonan dan sungai Ciwulan yang mengalir deras. Itulah Kampung Naga.

Kampung Naga—tak ada yang tahu kenapa kampung ini dinamakan demikian—dihuni sekitar 311 jiwa. Walaupun telah bersentuhan dengan dunia modern—hampir sebagian besar masyarakatnya telah mengenyam bangku sekolah—masyarakat Kampung Naga tetap patuh mempertahankan adat yang telah turun temurun diwariskan kepada mereka. Bagi mereka, menjalankan adat berarti menghormati para leluhur (atau biasa disebut karuhan). Sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhan dianggap tabu, yang bila dilanggar akan menimbulkan petaka.

Ajaran karuhan bagaikan hukum tak tertulis yang mesti diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Kampung Naga. Cara membangun rumah, bentuk rumah, letak dan arah rumah, pakaian upacara, kesenian yang dipertunjukkan, tak boleh dilakukan sembarangan.

Pola Perkampungan
Kampung Naga berdiri di lembah subur seluas 1,5 hektar dan dibagi menjadi hutan, sungai, daerah persawahan, dan daerah perkampungan. Setiap area memiliki batas-batas yang tak boleh dilanggar. Area perkampungan, misalnya, tak boleh dibangun di lahan persawahan, dan begitu pula sebaliknya. Masyarakat Kampung Naga percaya bahwa pada batas antardaerah tersebut ada mahkluk halus. Jika batas dilanggar, mahkluk halus itu akan marah dan menimbulkan petaka.

Daerah perkampungan ini memiliki 111 bangunan, terdiri atas 108 rumah, 1 balai pertemuan (bale patemon), 1 masjid, dan 1 lumbung. Masjid, balai pertemuan dan lumbung diletakkan sejajar, menghadap ke arah timur-barat. Di depannya terdapat halaman luas (semacam alun-alun) yang digunakan untuk upacara adat. Di depan masjid ada kentongan besar, yang dibunyikan ketika ingin mengumpulkan massa, memberitahukan waktu-waktu penting (waktu subuh, magrib dan isya), serta memberitahu jika ada bahaya.

Bangunan yang lain, yaitu rumah penduduk, mesti menghadap utara-selatan. Karena daerah ini banyak rayap, rumah dibuat dengan model panggung, yaitu ditinggikan sekitar 50 cm dari tanah. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu atau bilah-bilah kayu, yang dibiarkan mentah begitu saja, atau dicat dengan menggunakan kapur putih. Selain untuk memberi warna, kapur putih berguna untuk melindungi dinding dari serangan rayap. Untuk atap, mereka membuatnya dari ijuk, alang-alang, atau daun nipah.

Lengang Tanpa Listrik
Kehidupan yang sederhana namun bersahaja tampak pada masyarakat Kampung Naga. Karena sebagian besar masyarakat Kampung Naga menggantungkan hidupnya pada hasil kebun dan sawah mereka, waktu mereka pun dihabiskan di sana. Para wanita, yang tidak ikut suaminya ke sawah, mengisi hari mereka dengan memasak dan mengurus keluarga. Di sela-sela pekerjaan rumah tangga itu, para wanita mengerjakan kerajinan anyaman, yang dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke sana.

Suasana lengang akan tampak ketika malam tiba. Tak ada listrik membuat mereka mengandalkan penerangan hanya dari lampu teplok yang digantung di dinding. Tak ada alat-alat elektronik, semuanya dikerjakan secara tradisional. Namun, di beberapa rumah sudah ada perangkat audio (umumnya TV) yang dihidupkan menggunakan aki.

Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih dipegang kuat. Mereka memandang suci tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal mahluk halus tersebut (oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget). Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna (leluhur Kampung Naga) dan Bumi ageung (rumah pertama yang didirikan di Kampung Naga). Tempat-tempat itu hanya boleh didatangi oleh tokoh adat masyarakat Kampung Naga pada waktu tertentu. Wisatawan tak boleh mendekatinya, apalagi memotretnya.

Bermalam di Kampung Naga

Jika ingin merasakan suasana dan kehidupan Kampung Naga sebenarnya, cobalah untuk bermalam di sana. Anda bisa merasakan mandi di kamar mandi setengah “terbuka” (tanpa atap), bermalam di rumah dengan hanya diterangi lampu teplok, dan makan makanan khas Kampung Naga. Namun, tentu saja, Anda mesti meminta izin jauh-jauh hari pada kuncen.

Yang perlu diingat, janganlah berkunjung pada hari Selasa, Rabu, atau Sabtu. Sebab, pada hari itu masyarakat Kampung Naga sedang melakukan ritual menyepih, dan dilarang membicarakan adat istiadat dan asal-usul kampungnya.



SUMBER

Arti Logo Jawa Barat


Gemah Ripah Repeh Rapih, merupakan pepatah lama Sunda yang bermaksud menyatakan bahwa Jawa Barat adalah daerah yang kaya raya yang didiami oleh banyak penduduk yang rukun dan damai.

Bentuk bulat telur pada lambang Jawa Barat berasal dari bentuk perisai yang banyak dipakai oleh para laskar kerajaan zaman dahulu.

Kujang merupakan alat serba guna yang dikenal pada hampir setiap rumah tangga Sunda dan apabila perlu dapat juga digunakan sebagai alat penjaga diri dan lima lubang pada kujang tersebut melambangkan lima sila pada dasar negara Pancasila.

Padi merupakan bahan makanan pokok masyarakat Jawa Barat sekaligus juga melambangkan pangan dan jumlah padi 17 menggambarkan hari tanggal 17 dari bulan Proklamasi.

Kapas melambangkan sandang dan jumlah kapas 8 buah menyatakan bulan ke-8 dari tahun Proklamasi.

Gunung, adalah lambang yang menunjukan bagian terbesar dari Jawa Barat berupa daerah pegunungan.

Sungai dan Terusan melambangkan sungai, terusan dan saluran air yang banyak terdapat di Jawa Barat; Sawah dan Perkebunan; menyatakan luasnya lahan persawahan dan perkebunan (dibagian selatan dan tengah) di Jawa Barat.

Dam, Saluran Air dan Bendungan kegiatan dibidang irigasi merupakan salah satu perhatian pokok mengingat Jawa Barat merupakan daerah agraris.

SUMBER

Silaturahmi di Punclut

Baraya sadayana hayu ah urang ngariung di Punclut kaping 13-14 Desember...


































































All photos taken from skyscrapercity.com, and pria.websiteini.com

Selasa, 11 November 2008

Kabayan


Kabayan mangrupakeun ngaran hiji tokoh imajinatif Sunda nu ku masarakat umum (Sunda, umumna di Indonésia) dianggap salaku manusa lucu, polos, kedul, tapi sakaligus cerdas. Carita-carita lucu ngeunaan Kabayan nu sumebar di masarakat Sunda kawilang loba pisan, mekar dina budaya lisan ti abad ka-19 kénéh. Dedegan Kabayan katut paripolahna téh terus hirup dina angen-angen kahirupan urang Sunda, luyu jeung kamekaran jamanna.

Dedegan Kabayan sok dipapandékeun jeung tokoh nu sarupa dina kahirupan bangsa Arab, kayaning Abunawas atawa Nasrudin.


Karya sastra jeung pilem :

Carita-carita Kabayan geus mindeng diangkat dina wanda buku jeung pilem di antarana,
Buku:
Si Kabayan, Utuy Tatang Sontani (1959, basa Indonésia)
Si Kabayan Manusia Lucu, Ahdiat Karta Muharja (1997, basa Indonésia)
Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang, Ahdiat Karta Miharja (basa Indonésia)
Si Kabayan: dan beberapa dongeng Sunda lainnya, Ayip Rosidi (1985, basa Indonésia)
Si Kabayan jadi Wartawan, Muhtar Ibnu Thalab (2005, basa Indonésia)
Si Kabayan jadi Dukun, Moh. Ambri
Kabayan Bikin Ulah (2002, komik kompilasi)
Pilem:
Si Kabayan
Si Kabayan Mencari Jodoh (1994)
Si Kabayan Saba Kota
Si Kabayan dan Gadis Kota
Si Kabayan Saba Métropolitan
Si Kabayan: Bukan Impian (2000)

Selasa, 04 November 2008

Paham Kekuasaan Sunda

Oleh JAKOB SUMARDJO

KEKUASAAN kurang lebih berarti kemampuan, kesanggupan, kekuatan, kewenangan untuk menentukan. Kekuasaan meliputi wilayah keluarga, kampung, negara, lembaga. Dalam pengertian kebudayaan, wilayah-wilayah kekuasaan tadi menampakkan pola-pola yang sama. Pengaturan kekuasaan dalam keluarga, dalam kampung, dalam kerajaan sama. Itulah pola kekuasaan yang menampakkan dirinya dalam berbagai hasil budaya Sunda. Namun, kebudayaan sebagai cara hidup kelompok itu berubah terus. Apa yang akan diuraikan di sini berdasarkan artefak-artefak budaya yang sudah ada, jadi agak kesejarahan, dalam arti "telah terjadi".

Sumber dari pemahaman ini berasal dari cerita pantun, perkampungan Sunda, kampung adat, dan silat Sunda. Paham ini tersembunyi di balik yang tampak (tangible), sehingga memerlukan pemecahan simbol-simbolnya. Masyarakat Sunda sendiri dengan tidak disadari berlaku berdasarkan paham Sundanya, sehingga kurang berjarak untuk melihat realitas dirinya. Salah seorang mahasiswa pascasarjana di Bandung yang berasal dari Jawa Timur, pada suatu hari menyatakan pada saya, bahwa dia senang tinggal di Bandung karena orangnya ramah, baik, lembut hati. Masyarakat Sunda itu berkarakter halus, bukan kasar. Kalau harus "kasar", tetap "halus". Tidak keras tapi lembut. Tidak agresif tapi "diam".

Pada dasarnya, sikap hidupnya agak ganda dalam arti positif, yakni paradoksal. Menyatu-memisah, menerima-mempertahankan, asli-berubah, mandiri-tergantung, pemilik-pemakai, tiga tapi satu dan satu tapi tiga. Genealogi dari sikap ini adalah budaya purbanya yang huma atau ladang. Hidup berladang itu menetap-pindah, produktif-konsumtif, bebas-tergantung, terbuka tertutup. Paham kekuasaannya juga berkarakter demikian itu.

Simbol kekuasaan Sunda dengan jelas sekali tergambar pada cerita pantun. Pangeran Pajajaran, misalnya Mundinglaya Dikusumah, ke mana pun pergi selalu diiringi oleh pengawal setianya, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Dalam pengembaraan Pangeran Pajajaran, dia digambarkan "diam dan pasif" tetapi sangat dihormati dan dipatuhi keputusannya. Dalam hal ini Mundinglaya lebih banyak diam, sedangkan yang aktif Gelap Nyawang sebagai pemikir dan pengatur strategi perjalanan (eksekutif) dan Kidang Pananjung sebagai penyelesai persoalan. Namanya juga Kidang Pananjung yang selalu ada paling depan.

Inilah tritangtu Sunda. Pangeran Pajajaran yang memiliki kekuasaan, namun tidak aktif menjalankan kekuasaannya. Ia menyerahkannya kepada Gelap Nyawang untuk bekerja dan Kidang Pananjung yang bertanggung jawab terhadap keselamatan, keamanan, dan kesatuan ketiganya. Ini berbeda dengan cerita wayang Jawa. Arjuna punya tiga pengiring seperti Mundinglaya, namun segala sesuatu dipecahkan sendiri oleh Arjuna. Ketiga pengiringnya hanya bertugas menguatkan dan menghibur majikannya. Arjuna adalah pemilik, pelaksana, dan penjaga dirinya sendiri.

Pola pengaturan kekuasaan semacam itu ternyata juga ada pada pantun Sunda sendiri. Pantun Sunda dimulai dengan tugas raja Pajajaran kepada putranya agar mengembara menemukan sebuah negara. Di negara yang ditemukannya itu ia menetap dan berkuasa dengan cara mengawini putri setempat. Karena kecantikan putri tersebut, banyak raja di sekitarnya yang juga ingin memilikinya. Terjadi perang antara raja-raja perebut putri dengan abang putri tersebut (yang biasanya dipakai sebagai judul lakon pantun). Para raja dapat dibunuh oleh abang putri yang menjadi istri Pangeran Pajajaran. Atas permintaan putri, para raja dihidupkan kembali dan bersumpah mengabdi kepada Pangeran Pajajaran.

Tampak bahwa pemegang mandat kekuasaan, Pangeran Pajajaran, justru diam namun berwibawa. Sedang yang aktif menyelesaikan persoalan negara adalah abang putri atau penguasa setempat. Dan bekas-bekas musuh pangeran akhirnya menjadi pelindung dan penjaga kekuasaan pangeran. Kekuasaan Sunda yang sejati itu adanya di Pakuan Pajajaran. Rajanya tidak beranjak dari kratonnya. Yang bergerak ke luar keraton justru putra-putranya (memperluas wilayah kekuasaan). Dan pada gilirannya, para Pangeran Pajajaran itu juga bersikap seperti ayahanda mereka di Pakuan. Pangeran-pangeran itu pasif di pusat negaranya yang baru. Yang aktif menjalankan kekuasaan justru raja setempat yang sudah menjadi keluarga Pajajaran. Sedangkan para pelindung (para anggota kerajaan) adalah raja-raja asing yang non-Sunda.

Dengan demikian, kekuasaan itu dimiliki-tidak dimiliki karena yang memiliki kekuasaan tidak menjalankan kekuasaan, sedang yang menjalankan kekuasaan tidak memiliki kekuasaan yang dijalankannya. Pihak kekuasaan ketiga adalah mereka yang bertugas menjaga kesatuan dan keamanan serta perlindungan pemilik dan pelaksana kekuasaan.

Kekuasaan, dalam paham ini, masuk kategori "perempuan" bukan "lelaki". Perempuan itu yang memiliki, sedangkan lelaki yang menjalankan kepemilikan itu. Perempuan itu adanya di dalam rumah, bukan di luar rumah. Yang bergerak aktif di luar rumah itu lelaki. Kekuasaan sejati, yakni pemilik kekuasaan atau mandat kekuasaan surga adalah Raja Pajajaran dan putra-putranya yang tersebar di seluruh Jawa Barat. Sedang yang menjalankan kekuasaan bukan Raja Pajajaran atau putra-putranya di daerah, tetapi penguasa setempat atas nama Pajajaran. Sedangkan para pelindung kekuasaan boleh orang di luar pemilik dan pelaku kekuasaan.

Pola tripartit demikian itu rupanya bersumber pada pola pemerintahan kampung-kampung Sunda. Kampung telah ada terlebih dahulu dari pada lembaga negara yang bernama kerajaan. Dalam kampung-kampung Sunda tua, seperti di Kanekes-Baduy atau di Ciptagelar-Sukabumi selatan, kekuasaan kampung terbagi menjadi pemilik kekuasaan (kampung adat yang paling tua), pelaksana kekuasaan, dan penjaga kekuasaan kampung.

Kampung pemilik adat biasaya ada di bagian "dalam" dekat bukit dan hutan kampung, kampung pelaksana kekuasaan ada di tengah, dan kampung penjaga kekuasaan ada di luar. Dalam kampung adat Kanekes, masing-masing lembaga kekuasaan itu dipegang oleh Cikeusik (dalam, tua, adat), kemudian Cikertawana (eksekutif), dan Cibeo (pelindung batas).

Dalam kampung adat yang lebih modern, yakni di Ciptagelar, tripartit itu tetap dijalankan dalam bentuk kampung buhun (pemilik dan penjaga adat buhun Sunda), kampung nagara (pemerintahan modern nasional), dan kampung sarak (kampung yang mengurus kepentingan Islam). Dalam pola pikir ini, adat Sunda diletakkan sebagai pihak "dalam", "pemilik sejati", dan Islam berada di "luar" yakni batas wilayah kampung. Pemerintahan nasional ada di tengah.

Ternyata pola tripartit yang sama masih berlaku di banyak perkampungan Sunda di Jawa Barat seperti terjadi di Ciptagelar. Kampung Sunda di Darmaraja dekat Situraja, misalnya, membagi kesatuan tiga kampung dalam Kampung Cipaku yang mengurus kabuyutan kampung (Raja Haji Putih), Kampung Paku Alam mengurus pemerintahan nasional-modern (lurah), dan Kampung Karang Pakuan yang letaknya dekat jalan raya Darmaraja, merupakan kampung Islam di mana masjid kampung berada.

Di sinilah sikap terbuka-tertutup, tetap-berubah, menjalankan mekanismenya. Ketegangan budaya sering terjadi antara peran adat dan peran Islam. Sementara satu pihak menekankan adat buhun Sunda sebagai pemilik kekuasaan, di pihak lain Islam sebagai pemilik kekuasaan. Peran pelaku kekuasaan tetap lembaga pemerintahan nasional yang disetujui keduanya. Bagi mereka yang menjunjung tinggi kesundaan bersikap bahwa pemilik adalah Sunda (buhun, adat), sedang bagi yang menjunjung tinggi Islam bersikap "Islam itulah Sunda", gerakan revivalisme Sunda, saya kira, berdasarkan pikiran siapa yang seharusnya dinilai sebagai "dalam" dan siapa yang dinilai sebagai "luar". Seperti kita baca dalam kasus pantun Sunda, kategori "luar" itu mengandung arti "asing" juga.

Pola tripartit kekuasaan Sunda ini, dalam perjalanan sejarahnya menunjukkan sikap "tetap" sekaligus "berubah". Hal ini tampak dari penyebutan ketiga lembaga kekuasaan tersebut. Pada awalnya adalah pemilik kekuasaan, pelaksana kekuasaan, dan penjaga kekuasaan. Lalu di masa kerajaan menjadi sebutan resi, ratu, rama. Resi adalah pemilik kekuasaan yang tak bergerak, ratu adalah pelaksana yang bergerak aktif, dan rama yang merupakan rakyat (kepala kampung) yang menjaga ketertiban kampung masing-masing. Pada zaman perkembangan Islam rupanya menjadi pesantren (dalam), menak (bupati-bupati di Priangan), dan rakyat Sunda di kampung-kampung.
Terjemahannya dalam masyarakat modern Sunda, rupanya pola tripartit ini masih berlaku, yakni sebagai pemilik kekuasaan adalah rakyat Sunda (demokrasi), pelaksana kekuasaan gubernur-bupati, dan penjaga kekuasaan adalah panglima wilayah. Kategorinya; dalam, tengah, luar. Dalam dan tengah adalah Sunda, sedangkan pihak luar boleh asing (mirip para ponggawa dalam carita pantun).

Dengan demikian dasar paham kekuasaan Sunda itu lebih maternal dari pada paternal. Lebih mengasuh, rohani, adat, pikiran daripada sekadar memerintah. Sikap ini juga tercermin dalam silat Sunda yang lebih menyimpan kekuatan dari pada menggunakan kekuatan itu. Silat Sunda itu bageakeun baik untuk dirinya maupun "musuhnya". Diri sendiri selamat dan yang menyerangnya juga selamat. Yang pertama dilakukan adalah gerak menghindar sekaligus disertai gerak menyerang. Bukan untuk mematikan, tetapi untuk membuat lawan tidak berdaya lagi. Inilah sebabnya pawang pembetul tulang banyak terdapat di kampung-kampung Sunda. Jadi, sikap terhadap kekuatan lebih menyimpan, defensif, daripada menggunakannya dan agresif. Ini tidak berarti bahwa para jawara silat Sunda kurang "berani", justru sudah melampaui keberanian dan hanya menggunakan kekuatan tersebut apabila lawan memang sudah tak mau dibageakeun. Kekuasaan dan kekuatan itu tak boleh digunakan semena-mena, tetapi demi kesejahteraan bersama, baik dalam maupun luar.

Dalam zaman yanga semakin menasional dan mengglobal ini, sikap feminin semacam itu memang dapat mengancam kesundaan. Sikap asli yang purba ini ditantang kearifannya dengan gelombang "kuasa laki-laki" yang agresif. Memang tidak mudah. Namun, pemahaman yang lebih mendalam tentang sikap hidup masyarakat Sunda ini perlu dilakukan, sehingga dapat dikenali "kedalaman sejatinya" yang kokoh namun lentur, tetap namun berubah. Feminin tidak berarti lemah, tetapi halus. Yang halus itu bisa kuat. Suatu kekuatan, kekuasaan, yang kokoh namun halus, arif, tinggi. ***
 
Serenity Blogger Template